Samsung membuka data laporan pendapatan untuk kuartal ketiga pada Kamis, 27 Oktober 2022, di laman resminya.

Terlihat pada laporan tersebut adanya pendapatan tertinggi sepanjang periode tiga bulan ini yang senilai KRW 76,78 triliun ($54 miliar).

Ini 4 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

Namun, secara kuartal, laba operasionalnya belum cukup terdongkrak.

Dengan nilai KRW 10,85 triliun ($ 7,6 miliar), keuntungan yang didapat periode triwulan Juli-September lalu tersebut 23 persen lebih rendah daripada Q2 lalu, atau 26 persen lebih rendah daripada Q3 2021 (YoY).

Bagian bisnis seluler membukukan profit yang solid bagi Samsung.

Pendapatannya didorong oleh penjualan perangkat lipat yang baik seperti Galaxy Z Flip4 dan Galaxy Z Fold4, serta seri wearable Galaxy Watch5 dan Galaxy Buds2 Pro.

Lini ponsel ini juga membantu divisi Display membukukan peningkatan laba.

Sebaliknya untuk bisnis panel besar (TV dan monitor) yang justru mengalami penurunan laba hingga setengahnya.

Situasi diperkirakan belum akan berubah karena prospek untuk Q4 2022 adalah ketidakstabilan makroekonomi dan masalah geopolitik yang akan berlanjut.

Namun, harapan terbit untuk pertumbuhan triwulanan lewat penjualan akhir tahun di sekitar liburan Natal.

Terpisah, laporan Omdia menguatkan Canalys kalau pasar ponsel global pada kuartal ketiga tahun ini lebih baik 2,5 persen daripada kuartal kedua lalu, meski belum sebaik kuartal ketiga setahun lalu.

Selisih year on year masih cukup tajam, yakni 7,6 persen.

Dalam laporan itu juga termuat tingkat penjualan Samsung yang tertinggi di antara merek lain sepanjang Juli-September lalu.

Volume perangkat yang didistribusikan ke penjuru dunia sebesar 64,1 juta unit atau naik 3 persen daripada periode April-Juni, tapi masih minus 7,6 persen YoY.

Di urutan dua adalah Apple yang telah mengapalkan sebanyak 52,2 juta unit iPhone sepanjang kuartal 3 tahun ini.

Bedanya dengan Samsung, angka penjualan iPhone Apple itu naik 2,6 persen YoY.

Merek ponsel asal Cina adalah yang terpukul paling keras di periode kuartal yang sama.

Mereka adalah Xiaomi yang mendistribusikan 40,5 juta unit ponsel atau turun 11,2 persen YoY.

Oppo menjual 29,1 juta unit – lebih rendah 18,9 persen YoY, sedangkan penjualan vivo sebesar 25,3 juta unit juga turun 22,4 persen.

Dua merek Cina lainnya, Transsion dan Realme, juga turun masing-masing 21,7 dan 11,7 persen menurut hasil penjualan Q3 tahun ini.

Sedangkan Honor relatif tetap dengan volume penjualan kuartal 3 tahun ini dan tahun lalu sebesar 14,2 dan 14,5 juta unit.

Hanya Huawei, di tengah kungkungan sanksi dari Amerika, berhasil mencatat kenaikan signifikan dari 5,8 juta menjadi 8,6 juta unit YoY.

Penjualannya pada Q3 juga naik dibandingkan Q2 tahun ini.

Laporan Omdia menyebut sederet faktor di balik kemerosotan penetrasi ponsel-ponsel merek Cina tersebut.

Mulai dari efek lokcdown di banyak kota terkait pandemi, perang Rusia-Ukraina, konflik politik di India, hingga pelemahan ekonomi dalam negeri.

GSM ARENA, NEWS.SAMSUNG